Sabtu, 01 November 2008

Sejarah Singkat Pertumbuhan dan Perkembangan Retorika

SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN RETORIKA: METAMORFOSIS TRADISI MENUJU ILMU PENGETAHUAN

Oleh : Daniel Rusyad Hamdanny
NPM : 210110080305

Retorika memiliki sejarah pertumbuhan dan perkembangan yang sangat panjang. Fakta ini dapat dibuktikan dengan sebuah realitas bahwa faculty of speech adalah salah satu fakultas yang berdiri pada awal berdirinya University of Oxford . Bahkan, jauh sebelum retorika yang juga dijuluki ilmu komunikasi, ilmu berpidato, atau ilmu berbahasa , bermetamorfosis menjadi subjek studi khusus. Secara naluriah, manusia sudah mengenal dan mempraktekan retorika dalam definisi yang lebih sederhana.

Jauh sebelum Corax menulis Techne Logon, Empedocles menggubah The Nature of Things, dan jauh sebelum Demosthenes beradu opini dengan Isocrates dalam pergulatan lidah yang begitu memukau, sebenarnya manusia purba pun telah mengindikasikan penggunaan basic rhetoric. Manusia primitif dahulu kala biasa bergeram dan menyuarakan desis suara dalam tatkala mereka merasakan ketidaknyamanan atau gangguan pihak luar. Bukankan cara seperti itu termasuk dalam gaya komunikasi manusia?

Namun kita tidak sedang membahas retorika dalm arti yang sederhana. Penulis, melalui esai ini, berusaha memaparkan sejarah kemunculan, pertumbuhan, dan perkembangan retorika sebagai ilmu dengan metode periodik; Pra-Yunani, Yunani, Pasca Yunani hingga sekarang. Untuk lebih memahami karakteristik tipikal retorika dalam setiap periode itu, penulis akan menyertakan ahli dan karya-karya distributif mereka pada perkembangan retorika.

A. Retorika Pra-Yunani

Bak rantai yang tidak terputus, peradaban-peradaban yang ada di muka bumi ini tidak memulai keberadaannya, dengan segala aspek yang dibawa, tanpa pengaruh peradaban sebelumnya. Begitu pun dalam aspek ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi informasi dan transportasi Amerika Serikat saat ini, misalnya, adalah buah pengembangan dasar-dasar teknologi dalam bingkai ilmu matematika pada zaman Yunani Kuno. Ilmu matematika pun pada hakikatnya tidak mungkin dapat dikonsumsi, apalagi dikembangkan, jika tidak dihidupkan kembali oleh peradaban selanjutnya di Asia Barat. Disanalah matematika mulai bertransformasi menjadi pengetahuan modern. Angka nol pertama kali diperkenalkan, rumus trigonometri ditemukan, bahkan matematika telah memiliki cabang tersendiri yakni al-jabar. Berpangkal dari pengembangan itu semua akhirnya membuahkan penemuan komputer, dan sekarang peneman itu berimbas pada zaman e-technology.

Dalam kaitannya dengan retorika. Ilmu pengetahuan yang major area-nya kemampuan manusia dalam berkomunikasi ini tidak bersifat statis. Dinamisme ilmu ini bisa kita melalui perkembangannya dari zaman ke zaman lainnya. Dari masa dimana retorika hanya merupakan kebiasaan manusia hingga masa yang menjadikan retorika disiplin ilmu dengan berbagai teori dan definisi.

Orang-orang Mesopotamia, yang konon peradabannya dijuluki the cradle of civilization , sebagaimana masyarakat Mesir Kuno dan Assyria, yang datang setelahnya, mengasah kemampuan retorika mereka dengan tujuan-tujuan ritual keagamaan . Ritual keagamaan seperti upacara pengorbanan, permohonan surut Nil berkepanjangan, memperingati yaumu-l-hashaad atau hari bersemi, dan sebagainya memang membutuhkan kepiawaian tokoh atau pemimpin adat dalam menyampaikan pesan dan harapan-harapan masyarakat adat pada Dewa di depan publik.


B. Retorika Pada Zaman Yunani

Melalui bukunya, Retorika Modern, Jalaluddin Rahmat berpendapat bahwa uraian sistematis retorika diletakan pertama kali oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani yang berada di bawah pimpinan para tiran. Keadaan di bawah tekanan para tiran inilah yang mengharuskan rakyat Syracuse pandai beretorika demi mempertahankan hak-hak mereka yang diabaikan penguasa. Kemudian munculah seseorang di antara mereka yang bernama Corax. Konon, Corax pernah menggubah sebuah makalah mengenai Retorika yang ia beri judul Techne Logon. Para ahli berkeyakinan bahwa makalah Corax ini berisikan tentang teori kemungkinan dalam bersilat lidah.

Di samping itu, Corax telah meletakan dasar-dasar organisasi pesan. Ia membagi pidato pada lima bagian: pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan. Dari sini, para ahli retorika kelak mengembangkan organisasi pidato.

Di belahan lain kerajaan Yunani, masih pada abad yang sama, terlahir pula tokoh yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan Retorika. Ia bernama Empedocles. Ia pernah berguru pada filosof masyhur, Phytagoras, dan tulisannya The Nature of Things kelas membawanya menjadi terkenal. Sebagai mistikus, filosof, politisi, dan orator, Empedocles memiliki kepribadian yang lengkap. Distribusi akbar politisi anti aristokrasi tersebut dalam pengembangan retorika adalah kepiawaiannya mengajarkan prinsip-prinsip retorika yang kelak dijual Gorgias kepada penduduk Athena.

Selain Corax dan Empedocles, masih banyak tokoh-tokoh lain yang memerankan peranan penting dalam pengembangan Retorika pada zaman Yunani Kuno. Jumlah tokoh yang banyak itu tak bisa dilepaskan dari citra dan pandangan yang melekat pada retorika itu sendiri. Konon, Retorika dipandang sebagai keahlian kaum ningrat saja. Tidak semua mampu, atau bahkan boleh, mempelajari Retorika. Dan negara sendiri memfasilitasi para jago orasi sebuah match even yang bergengsi laiknya perlombaan olah raga tingkat dunia.

Diantara tokoh-tokoh yang banyak, yang penulis kategorikan sebagai the most important setelah Corax dan Empedocles, itu adalah Protagoras, Demosthenes, Isocrates, Plato, dan muridnya, Aristotles. Protagoras, yang juga anggota kelompok sophistai –sejarawan menyebutnya sophis- berjasa mengembangkan retorika dan memopulerkannya. Retorika, bagi mereka bukan hanya ilmu pidato, tetapi meliputi pengetahuan sastra, gramatika, dan logika. Mereka tahu bahwa rasio tidak cukup untuk meyakinkan orang. Mereka juga mengajarkan teknik memanipulasi ekonomi yang dikenal dengan hypocrisis. Malalui teknik inilah orator menyapa para pendengar langsung ke lubuk hati mereka yang paing dalam. Berkat kegigihan protagoras dan kawan-kawannya yang tergolong dalam kaum sophislah bermunculan jago-jago pidato pada berbagai area seperti olipmiade, gedung perwakilan, dan pengadilan.

Demosthenes dan Isocrates –di balik perbedaan keduanya yang cukup fundamental- adalah produk kaum sophis yang bekerja all-out dalam memasyarakatkan Retorika. Demosthenes dikenal sebagai orator yang memiliki gaya bicara yang tidak berbunga-bunga, tetapi jelas dan keras. Ia pandai dalam menggabungkan narasi dan argumentasi, ekspresionis ulung, lantang, dan memiliki cara yang unik dalam berlatih. Yakni menyendiri di dalam gua buatannya secara konsisten. Pada zamannya, tak satupun menyangsikan patriotisme Demosthenes kecuali Aeschines. Perselisihan pun tak dapat dihindarkan pada acara pengannugrahan Demosthenes penghargaan. Perdebatan terjadi antara ia dengan Aeschines yang akhirnya dimenangkan Demosthenes.

Adapun Isocrates, ia dikenal sebagai tokoh yang mengangkat citra retorika sebagai ilmu yang terbatas. Keterbatasan inilah yang akhirnya membuat Retorika menjadi ilmunya kaum berada saja. Namun, dibalik langkahnya yang kulang populer itu, Ia telah mendirikan sekolah retorika yang paling berhasil tahun 391 SM. Ia mendidik muridnya menggunakan kata-kata dalam susunan yang jernih tetapi tidak berlebih-lebihan, dalam rentetan anak kalimat yang seimbang dengan pergeseran suara dan gagasan yang lancar. Karena ia tidak mempunyai suara yang baik dan keberanian untuk tampil, ia hanya menuliskan pidatonya. Ia menulis risalah-risalah pendek dan menyebarkannya. Sampai sekarang risalah-risalah ini dianggap warisan prosa Yunani yang menakjubkan. Gaya bahasa Isocrates telah mengilhami tokoh-tokoh retorika sepanjang zaman: Cicero, Milton, Massillon, Jeremy Taylor, dan Edmund Burke.

Dua tokoh yang penulis sebutkan terakhir, Plato dan Aristotles, boleh jadi gambaran air mata guru mereka Socrates. Socrates yang amat kecewa atas matrealisme kaum sophis yang menjadikannya bagian dari kaum termarginalkan. Ia mengkritik kaum sophis sebagai para prostitut. Prostitut dalam artian orang yang menjual kebijaksanaan dengan uang. Plato, sebagai refleksi atas apa yang telah menimpa gurunya, mengategorikan kebenaran menjadi kebenaran relatif yang didapat dalam sophisme, dan kebenaran sejati yang manusia temukan dalam filsafat.
Sedangkan langkah progresif Aristotles terhadap perkembangan retorika adalah kontribusi ilmiah beliau dalam De Arte Rhetorica yang daripadanya kita mengenal Lima Hukum Retorika; inventio, dispositio, elocutio, memoria, pronuntiatio.

C. Retorika Zaman Romawi

Pada zaman Romawi, Retorika sempat mengalami gejala statis. Tidak banyak kemajuan yang berarti tercipta, pasca De Arte Rhetorica, dua ratus tahun sebelumnya, digubah oleh Aristotles. Rupanya hal ini mengindikasikan akan kuat dan komprehensifnya pembahasan yang tertuang di dalam masterpiece murid kesayangan Plato tersebut.

Adapun pustaka mengenai retorika yang muncul pada zaman romawi diantaranya Ad Herrenium yang ditulis dalam bahasa Latin. Namun, cakupan buku ini terlalu sederhana untuk kemudian bisa menjadikannya karya fenomenal. Ad Herrenium hanya berbicara tentang warisan retorika gaya Yunani. Dan itupun lebih menekankan aspek praktisnya saja.

Kendati demikian, pada zaman ini banyak terlahir orator-orator ulung seperti Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius, dan Cicero. Yang terakhir inilah yang sepertinya merupakan best of the best dari sekian orator yang hidup pada zaman Romawi. Sampai-sampai Kaisar Roma pun memuji Cicero, "Anda telah menemukan semua khazanah retorika, dan Andalah orang pertama yang menggunakan semuanya. Anda telah memperoleh kemenangan yang lebih disukai dari kemenangan para jenderal. Karena sesungguhnya lebih agung memperluas batas-batas kecerdasan manusia daripada memperluas batas-batas kerajaan Romawi".

Will Durant mendeskripsikan keunikan Cicero bahwa ia menyajikan orasinya secara bergelora, ia juga menggunakan humor dan anekdot, selain itu ia lihai menyentuh perasaan pendengar, terampil dalam mengalihkan perhatian, tak jarang memberondong pertanyaan retoris yang sult dijawab, dan pandai menyederhanakan materi yang sulit.

Statisnya perkembangan retorika di zaman Romawi akhirnya dapat dirobohkan setelah Quintillianus mendirikan sekolah retorika. Sebagaimana singa podium lainnya, barang tentu Quintillianus memiliki perspektif sendiri tentang apa itu retorika? dan apa-apa sajakah yang seyogyanya dimiliki oleh seorang orator?

Secara singkat, berikut adalah jawaban dari pertanyaan tersebut. Quintillianus mendefinisikan retorika sebagai ilmu berbicara yang baik. Siapa-siapa yang ingin mendalami retorika haruslah dari besar dalam keluarga yang terdidik dan pendidikan orator pun harus dimulai sedini mugkin, kalau bukan sebelum ia terlahir. Dan calon orator harus dibekali musik, gimnastik, sastra, sains, filosofi, dan gemar baca-tulis, yang kesemuanya itu akan mengantarkannya menjadi manusia yang mendekati sempurna.

D. Retorika Abad Pertengahan dan Zaman Daulat Islamiah

Tak satupun manusia menyangsikan bahwa ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya Retorika, mengalami pembungkaman umum pada medieval ages di Eropa yang selalu diidentikan dengan doktrin sakral gereja. Hal ini menjadi amat masuk akal, jika kita menilik pada syarat tumbuh kembangnya Retorika, yakni miliu demokratis yang membebaskan setiap individu seluas-luasnya untuk berkarya. Maka, dengan hilangnya miliu demokratis ini, mandul pulalah perkembangan Retorika yang pada saat bersamaan dianggap kesenian jahiliyah.

Doktrin gereja yang membutakan manusia akan kebenaran alam raya ini akhirnya membawa manusia pada era kegelapan. Di mana banyak ilmuwan yang menjadi korban inkuisisi gereja atas ketidakklopan teori mereka dengan isi bible yang sakral. Vakumlah, jika tidak mati, ilmu pengetahuan untuk sementara.

Seperti yang telah penulis singgung sebelumnya bahwa peradaban bak rantai yang saling bertautan yang saling menyambung satu dan lainnya. Pada saat-saat kegelapan membutakan Eropa. Geliat kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan bergulir kembali ke daerah Asia Barat dan Afrika Utara. Di mana ketiga Abrahamic Faiths muncul. Bergulirnya kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan ke sana tentu bukan tanpa alasan. Dan alasan yang paling prinsipil adalah adanya kepemimpinan –boleh jadi imamah, riasah, khilafah, ataupun imarah- yang baik.

Ihya’ atau penghidupan kembali ilmu-ilmu yang sempat mati suri akibat doktrin sesat gereja terjadi di Timur pada zaman Daulat Abbasiyah dan mencapai puncaknya pada masa khilafah Harun Al-Rasyid.Konon, Pada masanya hidup ahli-ahli bahasa terkenal yang memelopori penyusunan tata bahasa, seni bahasa, dan nada sajak. Diantaranya Khalaf Al Ahmar, Al Ashmai, Al Khalil Bin Ahmad Al Farahidi, Akhfasyi Al Akbar, Akhfasy Al Awsath, Sibawaihi dan Al Kisai .
Menurut Imam Subakir Ahmad, MA, pakar peradaban Islam, founding fathers Daulat Islamiyah –As Safah, Al Mansur, dan Al Mahdi- adalah pakar pidato. Dan pidato pada saat itu digunakan berbagai kesempatan seperti upacara kenegaraan, penerimaan duta, pembagian harta rampasan perang, ritual keagamaan, bebagai peringatan dan perkumpulan.

Seiring dengan jumlah ilmuwan, pakar, ahli bahasa, dan ulama yang sangat besar, banyak pula hasil temuan ilmiah maupun hasil terjemahan buku-buku berbahasa Yunani ke dalam Bahasa Persia maupun Arab. Hal ini didukung oleh apresiasi luar biasa yang diberikan oleh seorang khalifah terhadap ilmuwan yang berhasil menulis maupun menerjemahkan buku. Konon, khalifah memberikan imbalan mas sepadan dengan berat buku yang berhasil digubah .

Diantara kemajuan ilmu pengetahuan tersebut, Retorika memiliki posisi yang lebih daripada ilmu pengetahuan lainnya. Hal ini karena khitobah atau retorika dalam tradisi keilmuwan Islam didasari oleh banyak sekali disiplin ilmu seperti As Sharf, An Nahwu, Al Ma’ani, Al Bayan, Al Balaghah, Qardul Syiri, dan sebagainya, yang kesemuanya itu merujuk pada Al-Qur’anul Karim.
Bahkan Islam sendiri dibawa oleh Nabi yang sangat fasih dalam berbahasa Arab . Begitu pun dengan pengganti-penggantinya –Abu Bakr, Umar Bin Khattab, Ustman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib- yang keseluruhannya piawai dalam berorasi. Tidak sedikit pidato-pidato mereka yang terdokumentasikan dengan begitu apiknya, sehingga kita yang hidup pada abad ke-21 ini pun masih bisa menikmati keindahan kata, keagungan makna, dan kekuatan semangat yang mereka miliki melalui arsip pidatonya itu.

Pada kenyataannya, pidato merupakan instrumen yang sangat menentukan perjalanan sejarah manusia. Tak sedikit peperangan yang dimenangkan oleh pihak yang secara kuantitas tidak sepadan dengan jumlah pasukan musuhnya hanya karena pemimpin yang berhasil memompa adrenalin sekaligus membakar semangat jiwa dan raga pasukannya itu. Kita tentu akan diingatkan dengan aksi Thariq bin Jiyad yang membakar seluruh kapal dan perahu pasukannya sesampainya mereka ke Andalus seraya berkata: “Kita ke sini bukan untuk kembali.....” Dan kemenanganlah akhirnya yang mereka tuai .

Berikut adalah karakteristik pidato pada Era Abbasiah:
1. Pidato itu mengalir pada alur berbingkai agama;
2. Adakalanya pidato sangat bernuansa politis seperti rayuan pada sultan dan sebagainya;
3. Memiliki kekuatan dalam menyentuh kalbu dan memancing tangis pendengar;
4. Kata yang digunakan benar-benar apik, perumpamaan yang mudah dipahami, dan kalimat yang penuh arti;
5. Dimulai dengan hamdalah dan pujian untuk Allah;
6. Keutamaan dalam penggunaan ushlub atau struktur kalimat Qurani;
7. Adakalanya orator berbicara dengan ijaz (Arab. Penyederhanaan kalimat) atau dengan Ishab (pemanjangan kalimat)
8. Sesuai dengan tradisi yang berlaku, orator biasanya menggunakan penutup kepala,memakai sorban, dan memegang tongkat –sebagaimana yang kita lihat pada khutbah jumat di beberapa masjid- sembari berdiri .

E. Retorika Modern

Seperti halnya filsafat, bahkan ajaran agama yang terbagi ke dalam beberapa school of thought, retorika pun pada perkembangannya pada sekitar abad ke-19 sampai 20 terpecah ke dalam sejumlah aliran yang diusung oleh pakar retorika pada zamannya.

Berikut adalah beberapa aliran retorika, karakteristiknya, dan tokoh yang memperkenalkannya. Yang pertama adalah aliran epistemologis, aliran ini menekankan proses psikologi dalam retorika. Beberapa tokoh yang berhaluan aliran ini adalah George Campbell dan Richard Whately. Baik Campbell maupun Whately menekankan pentingnya menelaah proses berfikir khalayak.

Aliran kedua bernama belles lettres disingkat belletris (Prancis. tulisan yang indah). Retorika belletris sangat mengutamakan keindahan bahasa, segi-segi estetis pesan, kadang-kadang dengan mengabaikan segi informatifnya. Tokohnya yang paling terkenal adalah Hugh Blair yang memperkenalkan fakultas citarasa (taste), yaitu kemampuan untuk memperoleh kenikmatan dari pertemuan dengan apa pun yang indah.

Sedangkan aliran ketiga –berbeda dengan kedua aliran sebelumnya yang lebih menekankan aspek persiapan pidato- lebih mengetengahkan teknik penyampaian pidato. Aliran ini bernama gerakan elokusionis. Diantara tokoh-tokohnya yang paling masyhur adalah Gilbert Austin dan James Burgh. Burgh, dalam hal ini, pernah menjelaskan tentang 71 emosi dan cara menyampaikannya. Karena aliran yang terakhir ini lebih berfokus pada aspek artifisial saja, dampaknya orator jadi terkesan tidak bicara secara spontan namun dibuat-buat.

Pada abad ke-20, retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan modern - khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah retorika pun mulai digeser oleh speech, speech communication, atau oral communication, atau public speaking. Pakar retorika yang mencuat pada abad ini adalah James A. Winans, Charles Henry Woolbert, William Noorwood Brigance, Alan H. Moonroe, dan Dr. Charles Hurst.

Tidak ada komentar: